Wednesday, February 25, 2009
Who we are
DoctorSHARE is a non-profit humanitarian organization that focuses on health services and medical humanitarian aid.
Individuals who joined in DoctorSHARE work together, share talents and skills regardless of their limitation ethnic, religious, racial and inter-class to realize the vision and mission DoctorSHARE in accordance with the principles of humanitarian ethics and medical services. Many of those who have experienced crisis in Aceh Indonesia since 1998 due to political instability, economic and social, and natural disaster that surge Indonesia.
DoctorSHARE currently supported by the surgeon, doctors, nurses, and professionals such as journalists, administrators, photographer, designer, information technology expert, professional social workers, and a number of individual donors. We open ourselves to those who want to share their professional supporting the vision and mission DoctorSHARE in the recovery community in the field of health.
History
From designated individuals who are volunteers share their expertise in the field of health services and humanitarian action in 1998 when Indonesia in crisis.
Individuals who at that time are still liquid and moved later without an organized humanitarian activities with the support and work programs from Regional Perhimpunan Tionghoa Indonesia (INTI) of DKI Jakarta and Central Perhimpunan INTI since 2000, with the name of the Health Perhimpunan INTI.
In 2008, this organization expanded working areas with the goal of a more comprehensive, professional and independent.
Mission
Provision of medical care and access to health services for people who are stuck in a crisis, such as those who do not have access to health services, those who face discrimination or negligence of the local health system, marginalized groups in society, they are trapped in natural disasters, epidemic and malnutrition.
Vision
Save lives and suffering of people trapped in acute crisis, so they can restore the ability to rebuild the life of form.
Values
Values thought by the team is DoctorSHARE's integrity, sharing, love, can be trusted and mutual respect. Strength of the team are in a sense of responsibility, the ability to adapt.
Monday, February 16, 2009
Gizi Buruk merupakan Implementasi Ke”pasif ”an
Faktor ekonomi sering dituding menjadi penyebab maraknya kasus gizi buruk. Padahal gizi buruk adalah masalah yang bukan hanya disebabkan oleh kemiskinan. Masalah ini kompleks,Kesehatan merupakan investasi untuk mendukung proses pembangunan ekonomi serta memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Di suatu kelompok masyarakat, anak balita merupakan kelompok yang paling rawan terhadap terjadinya perubahan status kesehatan sebagai akibat dari kekurangan gizi.
Anak yang kurang gizi akan menurun daya tahan tubuhnya, sehingga mudah terkena penyakit infeksi, sebaliknya anak yang menderita penyakit infeksi akan mengalami gangguan nafsu makan dan penyerapan zat-zat gizi sehingga menyebabkan kurang gizi.
Anak yang sering terkena infeksi dan gizi kurang akan mengalami gangguan tumbuh kembang yang akan mempengaruhi tingkat kesehatan, kecerdasan dan produktivitas di masa dewasa. Status gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi.
Berita tentang kasus gizi buruk pada berbagai media menunjukkan bahwa masalah tersebut kembali menyeruak hampir di seluruh provinsi termasuk di ibukota negara, Jakarta. Memang, program perbaikan gizi di Indonesia secara nasional telah dilaksanakan sejak tiga puluh (30) tahun yang lalu. Tetapi upaya ini ternyata belum mampu menanggulangi masalah gizi buruk. Bahkan, masih saja setiap hari kita mendengar pemberitaan mengenai kasus gizi buruk di media massa.
Hal menarik disampaikan oleh Prof. Soekirman, guru besar ilmu Gizi-IPB, dalam salah satu media cetak nasional (09/06/2005) bahwa berbagai program dan proyek telah digelar pemerintah dengan anggaran ratusan miliar rupiah bahkan mungkin triliun dengan berbagai nama menarik, diantaranya program Jaring Pengaman Sosial (JPS), Dana Kompensasi BBM, Bantuan Pangan Raskin (untuk keluarga), dan Makanan Tambahan Balita Kurang Gizi (MPASI) meskipun belum ada bukti efektif tidaknya program dan proyek tersebut karena hal tersebut hanya intervensi sementara atau darurat.
Sedangkan masalah utamanya menurut Prof Mubaryarto adalah masih banyaknya warga masyarakat yang tidak diberdayakan.
Secara global, Suara Pembaruan (29/3/2006) menunjukkan fakta bahwa tingkat prevalensi kekurangan gizi di Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2003 tercatat ada 17,7 persen, tahun 2004 ada 17,8 persen dan tahun 2005 ada 19,5 persen.
Memang menyedihkan, sebab masalah gizi buruk termasuk busung lapar semestinya dapat dicegah. Propinsi NTT khususnya mempunyai jumlah kasus gizi buruk dari bulan Januari 2005 sampai Desember 2005 sebanyak 13.969 dari jumlah balita di NTT 477.829 anak.
Hasil assessment gizi yang dilakukan Depkes bekerja sama dengan SEAMEO dan WFP bulan Juli-September 2005 menunjukan prevalensi gizi buruk di Propinsi NTT : 13,8%, Sumba Timur : 13,2%, TTS: 18,0%, Kota Kupang : 14,9%, Ende : 8,7 % dan Flores Timur : 8,2%.
Dari 13.969 balita gizi buruk yang ditangani, sebanyak 12.792 balita dilakukan rawat jalan dan pemberian makanan tambahan dan 1.165 balita dirawat di berbagai tempat yaitu Therapeutic Feeding Center (TFC), Puskesmas dan RSUD. Jumlah balita yang dirawat sebanyak 706 balita telah membaik, yang lainnya masih dalam perawatan.
Sedangkan jumlah pasien gizi buruk yang meninggal dunia dari bulan Januari sampai Desember 2005 sebesar 58 balita. Sungguh suatu kenyataan yang sangat menyedihkan, jika kita teringat pada jumlah dana yang telah dialokasikan tidaklah seimbangan dengan harapan yang kita inginkan. Hal ini terlihat pada jumlah pasien yang dapat dipulihkan baru sekitar 10% dari jumlah kasus yang ada (13.969 balita gizi buruk).
Laporan Penanggulangan Masalah Gizi Buruk di Indonesia periode Tahun 2005-2006 menyebutkan bahwa jumlah Dana Dekonsentrasi yang diberikan dari pihak Pemerintah Pusat ke Propinsi NTT sebanyak 76 miliar dan difokuskan hanya untuk perbaikan gizi masyarakat belum mencakup jenis bantuan lainnya.
Namun data dari salah satu media informasi menyatakan bahwa sampai Juni 2008 tercatat korban gizi buruk di NTT kembali merenggut 23 nyawa balita. Selain itu, sekitar 225 kasus gizi buruk diikuti dengan kasus gizi kurang sebesar 1.388 di wilayah Rote Ndao. Bahkan diketahui sekitar 533 balita yang menderita gizi kurang dan gizi buruk sama sekali belum mendapat penanganan apapun.
Sedangkan sampai awal Juni di Kabupaten Ende ditemukan 18 balita menderita gizi buruk
Faktor ekonomi sering dituding menjadi penyebab maraknya kasus gizi buruk. Padahal gizi buruk adalah masalah yang bukan hanya disebabkan oleh kemiskinan. Masalah ini kompleks, tidak hanya dari segi ekonomi atau pun kesehatan saja tetapi dari aspek sosial dan budaya.
Konon di Sambas, 50% balita yang mengidap gizi buruk bukan disebabkan karena kemiskinan melainkan karena budaya makan. Kebanyakan ibu-ibu yang baru melahirkan mengkonsumsin nasi dan ikan kering tetapi tidak sayur karena sayur berkorelasi dengan kemiskinan.
Hal tersebut menunjang hasil surveilans di NTT yang menunjukkan bahwa faktor risiko penyebab gizi buruk adalah faktor sosial budaya dan ketidaktahuan, masalah tidak cukupnya persediaan pangan di rumah tangga, pola asuh kurang memadai, dan sanitasi/kesehatan lingkungan kurang baik serta sangat terkait juga dengan rendahnya tingkat pendidikan, pendapatan dan kemiskinan keluarga, masih tingginya penyakit infeksi, dan lebih diperberat lagi dengan adanya terjadinya kekeringan yang panjang.
Di tengah persoalan ini, kita sadar bahwa masalah gizi buruk bukan semata-mata tanggung jawab Dinas Kesehatan karena sebab masalah ini multi faktor dengan pokok masalah di masyarakat adalah kurangnya pemberdayaan keluarga dan masyarakat serta kurang pemanfaatan sumber daya yang ada di masyarakat.
Salah satu sasaran prioritas yang dipilih dalam strategi utama menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat adalah menjadikan seluruh keluarga sadar gizi (kadarzi) dan seluruh desa menjadi Desa Siaga. Kadarzi adalah suatu keluarga yang mampu mengenal, mencegah dan mengatasi masalah gizi setiap anggotanya.
Suatu keluarga disebut Kadarzi apabila telah berperilaku gizi yang baik yang dicirikan minimal dengan: 1) menimbang berat badan secara teratur, 2) memberikan Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sejak lahir sampai umur 6 bulan (ASI eksklusif), 3) makan beraneka ragam, 4) menggunakan garam beryodium, 5) minum suplemen gizi (Tablet Tambah Darah/TTD, Kapsul Vitamin A dosis tinggi) sesuai anjuran.
Desa Siaga merupakan desa dengan kesiapan sumber daya dan kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan khususnya masalah gizi secara mandiri sehingga tercapai masyarakat yang sehat, peduli dan tanggap.
Persyaratan minimal desa siaga adalah adanya Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) sebagai suatu upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) yang dibentuk di desa/kelurahan meliputi pelayanan pencegahan (preventif), promotif (peningkatan) dan kuratif (pengobatan), sekaligus menjadi koordinator UKBM yang telah ada seperti posyandu, polindes, dana sehat, ambulan desa, tabungan ibu bersalin/tabulin dan lain-lain.
Dengan demikian terlihat bahwa proses penanggulangan gizi buruk merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan masyarakat dan banyak sektor yang terkait dalam pelayanan kesehatan, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, pemberdayaan perempuan dan PKK maupun pertanian yang menyangkut ketersediaan pangan rumah tangga.
Penulis : Pemerhati Gizi NTT
Benvindu Iha Belu!
Benvindu Iha Belu!
Misi Sosial DoctorSHARE di
Perbatasan Nusa Tenggara Timur-Timor Leste
Tim Kesehatan Perhimpunan INTI (DoctorSHARE) yang diketuai oleh Dr. med. Lie A. Dharmawan, SpB, SpBTKV kembali mengadakan serangkaian kegiatan sosial pada 5-10 Desember 2008. Kegiatan kali ini difokuskan di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, salah satu wilayah Kepulauan Indonesia yang paling memerlukan bantuan pelayanan medis. Wilayah yang berbatasan dengan Republik Demokratik Timor Leste ini kerap dilanda krisis pangan dan bencana alam serta rentan konflik perang.
Sejak menjadi sasaran pengungsian besar-besaran di tahun 1999-2000 akibat pergolakan Timor Leste, belum terjadi peningkatan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama untuk penduduk wilayah perbatasan. Dengan pendapatan per kapita yang rendah, tingkat pendidikan dan taraf ekonomi yang lemah, serta fasilitas kesehatan yang jauh/tidak terjangkau, mengakibatkan banyak penduduk tidak memahami bagaimana pola hidup sehat, yang berujung pada anak-anak dengan gizi buruk dan penyakit-penyakit infeksi.
Kasus Malnutrisi dan Penyakit Infeksi Mendominasi
Berdasarkan laporan yang diterbitkan LSM internasional CARE, Sebanyak 61% anak usia 0-59 bulan menderita gizi buruk dan 58,3% anak usia 3-59 bulan menderita anemia. ”Bagi anak kurang gizi, semua badannya terasa sakit. Mereka bahkan tidak lagi menangis, karena untuk bernafas saja rasanya terlalu sakit,” kata dr. Theodorus L. Maubere, salah seorang dokter relawan DoctorSHARE yang kini menjadi Kepala Puskesmas Besikama dan Kepala Pusat Rawat Gizi Betun.
Setelah menempuh perjalanan darat selama 11 jam karena medan yang berat dan jembatan putus akibat banjir bandang, Tim Kesehatan DoctorSHARE mengunjungi anak-anak penderita malnutrisi yang dirawat di Panti Rawat Gizi Haliwen dan Panti Rawat Gizi Betun untuk menyampaikan bantuan yang dikirim para donatur dalam bentuk makanan bernutrisi, pakaian dan mainan anak.
”Anak-anak ini kami ambil dari tempat-tempat terpencil di pelosok Atambua,” ungkap dr.Theodorus. ”Di panti ini kami beri mereka makanan khusus dan kami ajari orangtuanya untuk mengubah pola hidup.” Anak-anak yang telah dirawat beberapa bulan mulai mengalami kenaikan berat badan dan sembuh dari penyakit infeksinya.
Layanan pengobatan umum, klinik gigi, bedah minor dan peningkatan gizi diberikan pada penduduk miskin di daerah perbatasan Belu-Timor Leste, yaitu Desa Bailaloo dan Desa Fulur, Weluli, serta daerah pesisir pantai Timur wilayah Desa Umatoos, Kecamatan Malaka Barat. Dokter-dokter yang memeriksa pasien didampingi oleh satu penterjemah bahasa Tetun yang menjadi bahasa sehari-hari masyarakat setempat.
Peningkatan gizi dilakukan oleh Tim Logistik di wilayah Desa Sukaer Laran dan Kolam Susuk, wilayah perbatasan yang banyak didiami pengungsi Timor Leste. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Belu, Dr. Lau Fabianus, di wilayah-wilayah ini bermukim penduduk di bawah garis kemiskinan. Hal ini terbukti dari survey lapangan yang dilakukan oleh Tim Surveyor INTI, dimana rata-rata mereka tidak memiliki penghasilan. Mereka hidup dengan makan jagung, padi ladang dan sayur mayur yang ditanam untuk dimakan sendiri. Asupan protein hewani yang jarang mereka peroleh mengakibatkan penyakit anemia dan kurang gizi. Penyakit terbanyak lainnya adalah nyeri ulu hati, radang sendi, gejala TBC dan infeksi saluran pernafasan akut.
Tim Klinik Gigi berhasil menangani 40 kasus periondentitis kronik, caries dentis, dan gangren pulpa. Sementara Tim Bedah Minor menemui kasus-kasus lipoma (tumor jinak), kista aterom, dan clavus. Kasus-kasus khusus lainnya adalah struma (gondok), hemangioma (tumor pembuluh darah) dan basalioma (tumor sel basal). Total penduduk yang berhasil dilayani adalah sekitar 2.300 jiwa.
Relawan DoctorSHARE yang datang dari Jakarta adalah Dr. Lie A. Dharmawan, dr. Susanna Tjoei, dr.Temmy Setiawan, dr. Delisusanti, dr. Marlina Suharno, dr. Oei Anastasia Winarto, dr. Tony dan dr. Edward Susanto. Sementara 3 relawan DoctorSHARE yang sedang malayani di wilayah Atambua adalah dr. Theodorus Maubere, dr. Arwinder Singh, dan dr. Amarvir Singh. Dokter lokal yang ikut membantu adalah dr. Fransiskus Dadi Agan, dr. Angel, dr. Soe Dji To, dr. Santy K.D, dr. Widyasari, drg. Agustine, drg. Susanna dan Dr. Lucy, SpA, warga negara Kanada keturunan Malaysia yang sedang dalam misi melayani masyarakat NTT. Relawan surveyor yang melakukan pendataan lapangan adalah Briggitte Kartikasari, Luthersun Telaumbanua dan Lisa Suroso. Photografer Eric Satyadi menjadi relawan untuk mendokumentasikan kegiatan.
Kunjungan Gubernur Nusa Tenggara Timur
Gubernur Nusa Tenggara Timur, Frans Lebu Raya, dalam kunjungannya bakti sosial yang diselenggarakan di daerah paska-banjir pada 8 Desember 2008, menyatakan rasa terimakasih dan dukungannya. ”Program yang dilakukan DoctorSHARE ini adalah program yang sungguh nyata dan langsung bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” paparnya. ”Masyarakat kami saat ini sedang ditimpa musibah. Kedatangan kalian benar-benar kami sambut dengan tangan terbuka.” Banjir bandang memang baru saja melanda beberapa wilayah Atambua, menyebabkan beberapa jembatan putus, ribuan hektar ladang pertanian gagal panen dan penyakit merebak.
Kunjungan Gubernur ini diiringi Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi NTT, Drs. Bria Yohanes, Wakil Bupati Belu, Gregorius Mau Bili Fernandez, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Belu, Dr. Lau Fabianus, Kepala Kepolisian Sektor Malaka Barat, Camat Besikama, dan pejabat setempat lainnya. ”Kami sangat bersukacita. Kehadiran DoctorSHARE di tempat ini bagaikan kado natal bagi kami,” ungkap Wakil Bupati yang dalam kesempatan terpisah menjamu Tim dan memberikan penghargaan khusus.
Pertemuan dengan Organisasi Massa Setempat
Rangkaian kegiatan sosial selama enam hari ini didukung oleh Yayasan Merdeka, sebuah organisasi Tionghoa setempat yang didirikan dengan misi sosial bagi masyarakat Belu. Yayasan Belu Sejahtera yang diketuai Maria Nelia Portugaleza Maubili dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang Belu juga terlibat membantu kesuksesan kegiatan ini.
Silaturahmi dengan warga Tionghoa Atambua dihadiri oleh Ketua Yayasan Merdeka, Chandra Sulaiman, Ketua I Yayasan Merdeka Aloysius Lay, Ketua II Yayasan Merdeka yang sekaligus Ketua Rotary Club Atambua, Michael Tandjung, Ketua III Yayasan Merdeka Yohanes Juang dan sejumlah tokoh Tionghoa Atambua.
Selain saling bersilaturahmi dan berbagi pengalaman, mereka juga meberikan kesempatan pada Dr. Lie A. Dharmawan untuk membagikan visi dan misi Perhimpunan INTI dalam mempersatukan potensi masyarakat etnis Tionghoa untuk membangun Indonesia.
Yohanes Juang dalam sambutannya pada DoctorSHARE mengungkapkan rasa terimakasih. ”Kami bersyukur Tim dari Jakarta menyempatkan diri hadir jauh-jauh ke tempat ini untuk melayani masyarakat kami.” Beliau juga menyatakan keinginannya untuk menjadi bagian dari keluarga besar Perhimpunan INTI di Atambua. ”Kami akan sangat bersukacita, bila para pimpinan INTI di Jakarta bisa melakukan kerjasama dengan kami di tempat ini untuk membangun bangsa kita menuju arah yang lebih baik,” paparnya.
Dr. Lie A Dharmawan menyambut baik keinginan para tokoh Tionghoa Atambua. ”Aspirasi warga Tionghoa untuk mendirikan cabang INTI kami sambut dengan baik,” paparnya. ”Apalagi Bapak Gubernur Frans Lebu Raya juga telah menyatakan dukungannya untuk membentuk INTI di Nusa Tenggara Timur dan Belu.”
(doctorSHARE/Lisa Suroso)
Terjemahan judul * Selamat Datang di Belu! (bahasa tetun)
Fakta di Balik Anak Susah Makan
“Apa sih yang salah dengan anak saya?”
Pemberian makan tidaklah sesederhana yang kita bayangkan. Makan merupakan salah satu kegiatan biologis yang kompleks, yang melibatkan berbagai faktor fisik, psikologis, dan lingkungan.
Makan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan berbagai macam zat gizi untuk keperluan metabolisme agar tubuh sehat dan daya tahan tubuh baik. Makan juga bertujuan mendidik anak agar terbiasa makan yang baik dan benar.
Berbagai keluhan yang sering dilontarkan orangtua
- penerimaan makan yang tidak memuaskan
- kebiasaan ngemut makanan
- makan terlalu sedikit
- kesukaran dalam ketrampilan makan
- menolak makan
- hanya mau makanan tertentu
- makan no, susu yes!
Penyebab kesulitan makan pada anak
faktor nutrisi
faktor penyakit/kelainan organik
faktor gangguan/kelainan kejiwaan
Selama masa tumbuh kembang, berdasarkan kemampuan untuk mengonsumsi makanan, memilih jenis makanan dan menantukan jumlahnya, anak-anak dikelompokkan sebagai:
- konsumen pasif : bayi
- konsumen semi-pasif/semi-aktif : balita
- konsumen aktif : anak sekolah dan remaja
Mengapa bayi sulit makan?
- adanya cacat/kelainan bawaan pada mulut atau yang lainnya
- manajemen pemberian ASI yang kurang benar
- pengenalan makanan tambahan yang kurang tepat (terlalu dini atau terlambat)
- jadwal pemberian makan yang terlalu kaku
- cara pemberian makan yang kurang tepat (terlalu memaksa soal waktu dan jumlah)
- terdapat gangguan berkaitan dengan kesulitan menyusu dan menelan
Mengapa balita sulit makan?
Berbeda dengan bayi, respon mengisap secara berangsur-angsur telah tergantikan dengan ketrampilan makan untuk mengonsumsi berbagai jenis makanan padat dan minuman.
Nafsu makan pada balita bisa jadi berkaitan dengan meningkatnya sosialisasi dengan lingkungan dan ruang gerak anak semakin meluas.
Semakin bertambah usia, seorang anak semakin memiliki aktivitas yang beragam, terutama bagi anak yang sudah memasuki usia sekolah dasar. Otomatis mereka lebih banyak bergerak, ke sekolah, bermain, dan sebagainya. Anak jadi sering mengabaikan waktu sarapan atau makan siang. Sebaliknya bisa juga terjadi, anak mengalami obesitas karena kurang aktivitas. Misalnya saja banyak menghabiskan waktu di depan televisi dan suka ngemil.
Selain faktor di atas, waspadai juga kemungkinan adanya penyakit atau kelainan organik seperti;
- kelainan bawaan (misalnya bibir sumbing)
- penyakit infeksi akut (misalnya infeksi saluran pernapasan)
- infeksi kronis (misalnya TBC)
- penyakit non-infeksi (misalnya penyakit jantung bawaan)
Kemungkinan lain yang juga mesti diamati dalam menghadapi masalah kesulitan pemberian makan pada anak adalah pendekatan psikologis. Jika berbagai kemungkinan di atas sudah terselesaikan sementara si kecil tetap sulit makan, ada baiknya mengkonsultasikan kepada psikolog.
Dr. Alfred MV Siahaan, SpA
RS PGI Cikini
Definisi Malnutrsi
Malnutrisi adalah suatu istilah umum yang merujuk pada kondisi medis yang disebabkan oleh diet yang tak tepat atau tak cukup. Walaupun seringkali disamakan dengan kurang gizi yang disebabkan oleh kurangnya konsumsi, buruknya absorpsi, atau kehilangan besar nutrisi atau gizi, istilah ini sebenarnya juga mencakup kelebihan gizi (overnutrition) yang disebabkan oleh makan berlebihan atau masuknya nutrien spesifik secara berlebihan ke dalam tubuh. Seorang akan mengalami malnutrisi jika tidak mengkonsumsi jumlah atau kualitas nutrien yang mencukupi untuk diet sehat selama suatu jangka waktu yang cukup lama. Malnutrisi yang berlangsung lama dapat mengakibatkan kelaparan, penyakit, dan infeksi.
Thursday, December 25, 2008
Malnutrisi Pada Pasien
Yang lama kadang memang dari penyakitnya yang memerlukan waktu dalam penyembuhannya, tetapi ada juga disebabkan oleh faktor lain seperti si pasien ternyata mengalami kekurangan gizi.
Kekurangan zat gizi atau yang lebih dikenal dengan nama Malnutrisi kini sangat dekat dengan kita, bahkan tidak jarang mereka yang sedang sakit betambah parah sakitnya karena kekurangan zat gizi. Dengan kondisi kekurangan zat gizi seperti ini membuat daya tahan tubuh penderita menurun hingga akhirnya penyembuhannya tidak kunjung selesai.
Dampak yang ditimbulkan bagi orang sakit yang terkena malnutrisi bisa dibilang sangat mengkhawatirkan, bahkan jika tersebut tidak segera ditangani akan menyebabkan pada kematian. Banyak penelitian menunjukkan bahwa komplikasi terjadi 2 sampai 20 kali lebih sering pada pasien malnutrisi daripada pasien dengan gizi baik. Adapun dampak jika pasien mengalami kurang gizi, yaitu:
- Fungsi organ-organ tubuh berkurang. Bisa dibayangkan jika organ-organ tubuh yang vital terganggu akan sangat berbahaya dan berujung pada kematian.
- Obat-obatan yang dikonsumsinya menjadi tidak bekerja secara maksimal.
- Berat badan pasien menurun karena tidak adanya gizi.
- Dengan kurangnya gizi, jelas penyembuhan luka akan terhambat.
- Kekebalan tubuh akan terganggu sehingga mudah terserang penyakit infeksi.
- Perawatan di rumah sakit pun menjadi lama.
- Angka kematian pun akan bertambah meningkat.
- Dengan penyembuhan yang lama, jelas akan membuat biaya rumah sakit menjadi membengkak.
Tidak sedikit orang-orang yang tengah atau baru menderita sakit mengalami keadaan malnutrisi (kekurangan zat gizi). Kekurangan gizi ini bisa didapat ketika di penderita memang sudah kekurangan gizi saat akan masuk rumah sakit atau bisa juga pada saat si pasien masuk gizinya baik dan selama di rawat di rumah sakit justru gizinya buruk.
Kondisi malnutrisi membuat daya tahan tubuh penderita menurun, sehingga dapat memperlambat proses penyembuhan. Salah satu solusi untuk mengatasi hal tersebut menurut penelitian bisa di lakukan dengan melakukan terapi nutrisi. Dengan adanya Nutrisi yang baik akan merangang daya tahan tubuh penderita sehingga mempercepat proses penyembuhan.
Oleh karena itu dukungan nutrisi pada orang yang sedang atau baru sakit sangat diperlukan.
Sumber: hanyawanita.com